• Jum. Apr 24th, 2026

220 Jurnalis Dunia Bahas Strategi Jurnalisme Perdamaian di Era Berita Konflik, Achmad Yani Ikut Beri Solusi. 

ByTini Widari

Apr 24, 2026

JAKARTA,PWMEDIATV.COM

Sekitar 220 jurnalis dari berbagai negara, termasuk Indonesia, mengikuti Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian yang digelar secara daring pada 18 April. 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture World Peace Restoration of Light ini mengangkat tema penguatan peran media dalam menghadapi fenomena penghindaran berita sekaligus mendorong kolaborasi antara media dan masyarakat sipil untuk membangun perdamaian.

Workshop ini menyoroti pentingnya pendekatan jurnalisme berbasis solusi di tengah meningkatnya kejenuhan audiens terhadap berita konflik. Melalui pendekatan tersebut, media tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga menawarkan jalan keluar serta menghadirkan perspektif yang memberi harapan.

Tiga jurnalis yang berkontribusi dalam Volume 4 Journal HWPL Peace Journalism Studies memaparkan hasil riset dan pandangan mereka. Salah satunya, jurnalis Indepthnews.id, Achmad Yani, yang mengkaji peran narasi media internasional dalam meredakan konflik Thailand–Kamboja.

Dalam paparannya, ia mengungkap bahwa framing media sangat berpengaruh terhadap cara masyarakat memahami konflik. Dari analisis 19 artikel media global, sekitar 64 persen pemberitaan lebih menitikberatkan pada aspek militer dan ketegangan politik. 

“Dan yang terjadi nasib lebih dari 200 ribu warga sipil yang mengungsi justru minim perhatian, ini yang kemudian harus di kedepankan terkait aspek keselamatan, “terang Yani kepada media, Kamis (23/4/2026). 

Menurutnya, media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi melalui pilihan isu yang diangkat maupun yang diabaikan. 

“Karena itu, kita mendorong praktik jurnalisme yang memberi ruang pada perspektif korban serta mengedepankan solusi damai, “ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan jurnalis mediabanjarmasin.com, Ida Yusnita. Ia menegaskan bahwa perdamaian tidak sekadar absennya konflik, melainkan kondisi yang dibangun di atas keamanan, keadilan, dan kesetaraan.

Ia menguraikan bahwa tanggung jawab mewujudkan perdamaian berada di tangan negara, masyarakat, dan media. Upaya tersebut, kata dia, harus diwujudkan melalui tata kelola yang adil, penguatan toleransi, serta praktik peliputan yang berimbang dan bertanggung jawab. 

Dia juga menekankan bahwa perlindungan hak asasi manusia menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menciptakan perdamaian.

Sementara itu, jurnalis sekaligus akademisi dari Republik Dominika, José Nicolás Arroyo Ramos, mengangkat isu polarisasi dalam lanskap media modern. 

Ia memperkenalkan konsep “kekerasan diskursif”, yakni bentuk komunikasi yang memperkuat perpecahan tanpa melibatkan kekerasan fisik.

Ia menilai, di era digital, penyebaran konten emosional yang belum terverifikasi kerap memperkeruh situasi dengan menyederhanakan persoalan kompleks menjadi narasi yang saling berlawanan. 

“Untuk itu kita juga mendorong penerapan jurnalisme perdamaian yang lebih mendalam, menghadirkan beragam sudut pandang, serta menawarkan solusi konstruktif, “ungkap Jose Nicolas

Meski berlangsung secara virtual, diskusi berlangsung dinamis. Para peserta terlibat aktif dalam sesi kelompok yang membahas pentingnya pemberitaan yang membangun harapan serta peran narasi positif dalam peliputan konflik.

Dalam kesempatan tersebut, juga diperkenalkan Media Association for Global Peace, sebuah jaringan global berbasis platform Substack yang menghubungkan jurnalis dan organisasi lintas negara. 

Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan jurnalisme perdamaian.

Penyelenggara menegaskan, media memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor yang turut membentuk persepsi masyarakat dan mendorong terciptanya perdamaian. 

Kolaborasi lintas negara dan praktik jurnalisme berbasis solusi pun disebut akan terus diperkuat ke depan.

Tim/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *